Minggu, 11 Februari 2018

Pantun : Pengertian, Ciri-Ciri, Jenis, dan Contohnya


pantun

Pantun dipopulerkan oleh sastrawan dari Riau yang bernama Raja Ibrahim Datuk Kaya Muda.

Raja Ibrahim merupakan salah satu sastrawan yang hidup satu zaman dengan Raja Ali Haji yang dikenal dengan karyanya gurindam 12.

Pantun bisa memberikan pengaruh baik terhadap diri sendiri dan orang lain.

Pengaruh baik terhadap diri pantun dapat menumbuhkan dan meningkatkan kemampuan bahasa diri sendiri, serta meningkatkan kreativitas dalam berbahasa.

Pengaruh baik kepada orang lain dengan pantun bisa memberikan nasehat dengan cara yang santun, dan dapat juga menghibur orang lain.



Pantun adalah jenis puisi lama yang tiap baitnya terdiri atas empat baris serta memiliki sampiran dan isi.



1.   Pantun terdiri dari 4 baris/larik
Pantun mempunya ciri khas yang kuat, yaitu tiap baitnya terdiri atas empat baris/larik.
2.   Satu bait terdiri dari 8 sampai 12 suku kata
Karena pantun pada awalnya di sampaikan secara lisan, tiap baris pada dibuat sesingkat mungkin. Itulah alasan kenapa  baris pada pantun umumnya terdiri dari 8 sampai 12 suku kata.
3.   Baris pertama dan kedua disebut sampiran
Sampiran adalah pengantar. Sampiran bersifat puitis, bahkan terdengar jenaka. Isi sampiran tentang peristiwa maupun kebiasaan yang terjadi pada masyarakat.
4.   Baris ketiga dan keempat disebut isi (tujuan pantun)
5.   Bersajak a-a-a-a atau a-b-a-b
Rima atau yang sering dikenal dengan sajak merupakan kesamaan bunyi yang terdapat pada puisi. Pantun mempunyai ciri khas rimanya adalah a-a-a-a atau a-b-a-b.
6.   Sampiran dan isi merupakah inti yang terpisah.
7.   Pantun karya yang bersifat anonim (tidak diketahui pengarangnya).

Pantun tidak bisa disebut dengan pantun, jika dalam pembuatannya tidak mengikuti kriteria yang mengikatnya.


1.   Pantun Berdasarkan Siklus Kehidupan (Usia) 
a.   Pantun Anak-Anak adalah pantun yang  berkaitan dengan masa kanak-kanak. Pantun ini menggambarkan makna suka cita maupun duka cita.
b.   Pantun Orang Muda adalah pantun mengenai kehidupan masa muda. Pantun  ini berisi perkenalan, hubungan asmara dan rumah tangga, perasaan (kasih sayang, iba, iri, dll), dan nasib.
c.   Pantun Orang Tua adalah pantun mengenai orang tua. Pantun ini mengenai budaya, agama, nasihat dll.

2.   Pantun Berdasarkan Isinya 
a.   Pantun Jenaka adalah pantun yang berisi hal-hal lucu dan menarik
b.   Pantun Nasihat adalah pantun yang berisi nasihat dengan tujuan mendidik, dan memberikan nasihat moral, budi perkerti, dll.
c.   Pantun Teka-Teki adalah pantun yang berisikan teka teki. Pendengar (pembaca) diberi kesempatan untuk menjawab teka-teki pantun tersebut. 
d.   Pantun Kiasan adalah pantun yang berisi kiasan. Pantun ini menyampaikan suatu hal secara tersirat. 
e.   Pantun Agama adalah pantun yang membahas mengenai manusia dengan pencipta-Nya.

3.   Pantun berdasarkan keterkaitan sampiran dan isi
a.   Pantun Mulia adalah pantun yang sampiran dan isi berkaitan. Kata-kata yang disusun dan diungkapkan pada sampiran merupakan indikasi keterkaitan terhadap isi.

b.   Pantun tak Mulia adalah pantun yang tidak mempunyai keterkaitan antara sampiran dan isi, pantun tak mulia adalah kebalikannya dengan pantun mulia.



Contoh Pantun Anak-anak :
Elok Rupa kembang jati
Dibawa itik pulang petang
Tidak terkata besar hati
Melihat ibu sudah datang

Kita menari ke luar bilik
Sembarang tari kita tarikan
Kita bernyanyi bersama adik
Sembarang lagi kita nyanyikan

Contoh Pantun Orang Muda / Remaja:
Naik Motor merknya Honda
Pergi sebentar kerumah Hanapi
Bila cinta mekar di dada
Siang terkenang malam termimpi

Makan pagi sepiring berdua
Rasanya enak tiada tara
Awas cowok pandai menggoda
Diam-diam watak buaya

Jalan-jalan ke Ciamis
Ada gedung parkirnya gratis
Aku cinta sama si kumis
orangnya ganteng lagi romantic

Kemanapun kaki melangkah
Aku selalu mengurai doa
Kemanapun cinta merambah
Aku selalu mengurai setia

Badan siapa terkena kudis
Obati saja dengan lada
Siang malam merayu gadis
Duduk bersanding bersama janda

Jelas sudah muram si duda
Karena kasihnya tiada lagi asa
Tiada detik bias wajah dinda
Hingga lapar tak lagi terasa

Contoh Pantun Orang Tua :
Supaya tangan tidak terluka
Jangan dikepit hulunya kapak
Supaya Tuhan tidak murka
Jangan sakiti Ibu dan Bapak

Hari rabu memetik salak
Buahnya segar hilang dahaga
Hormati Ibu juga Bapak
Agar kelak masuk surga

Contoh Pantun Jenaka :
Ikan gabus di rawa-rawa
Ikan sepat nyangkut dijaring
Perut sakit menahan tawa
Melihat gigi palsu loncat ke piring

Pak Tegus pergi ke Bali
Melihat bule sedang menari
Aduh pantas kau bau sekali
Kau belum mandi enam hari

Makan bubur di atas meja
Minumnya jus di balik rak
Hari libur terus bekerja
Dapat bonus ambilnya di irak

Duduk manis di bibir pantai
Lihat gadis, aduhai tiada dua
Masa muda kebanyakan santai
Sudah renta sulit tertawa

Contoh Pantun Teka-teki :
Tuan puteri belajar menari
Diajari oleh pak Harun
Kalau tuan bijak bestari
Apa yang naik tapi tak bisa turun

Burung nuri burung dara
Terbang ke sisi taman kayangan
Cubalah cari wahai saudara
Apa yang diisi makin ringan? 

Terendak bentan lalu dibeli
Untuk pakaian, saya turun ke sawah
Kalaulah tuan bijak bestari
Apa binatang kepala di bawah?


Contoh Pantun Nasihat :
Jangan suka makan mentimun
Mentimun itu banyak getahnya
Jangan suka duduk melamun
Melamun itu tidak ada gunanya

Jalan-jalan ke kota blitar
Jangan lupa membeli sukun
Jika kamu ingin pintar
Belajarlah dengan tekun
Bertamu ke rumah paman
Jangan lupa bawa kedondong
Jika ingin miliki teman
Jangan engkau berlaku sombong
Sungguh indah syair setanggi
Menyusun kata bagai hiasan
Ilmu itu mesti tinggi
Jangan dunia sebagai batasan
Di jalan tak sengaja berjumpa daun sugi
Ingat manfaat, lantas cepat dibawa
Tiada belajar tiada yang rugi
Kecuali diri sendiri di masa tua

Contoh Pantun Kiasan:
Apa guna sambal tumis
Kalau tak campur asam belimbing
Apa guna lama menangis
Takkan penuh telaga yang kering

Contoh Pantun Agama:
Asam kandis asam gelugur
Ketiga asam si riang-riang
Menangis mayat di pintu kubur
Teringat badan tidak sembahyang

Air cuka bercampur pasta,
Terkena mata jadi terluka.
Jangan suka berkata dusta,
Kalau tak ingin masuk neraka

Kalau tuan pergi ke Tuban
Jangan lupa mampir ke Daka
Shalat itu perintah Tuhan
Jika ingkar masuk neraka

Kalau sudah duduk berdamai
Jangan lagi diajak perang
Kalau sunah sudah dipakai
Jangan lagi dibuang-buang

Contoh Pantun Mulia:
Jangan suka makan mentimun
Karna mentimun banyak getahnya
Hai kawan jangan melamun
Melamun itu tak ada gunanya

Contoh Pantun Tak Mulia :
Ke pasar membeli gitar
Jangan lupa beli sukun
Jika kamu ingin pintar
Belajarlah dengan tekun


Kaidah kebahasaan yang dipakai pantun sebagai berikut:
1.   Diksi: Agar gagasan yang disampaikan memperoleh dampak yang diharapkan, kata yang disusun dalam pantun dipilih agar cocok dalam penggunaannya.

2.   Bahasa kiasan: bahasa yang digunakan pelantun untuk menunjukkan makna, secara tidak langsung. Umumnya berupa peribahasa/ungkapan.

3.   Imaji: penggambaran yang diciptakan oleh pelantun secara tidak langsung. Sehingga seolah-olah digambarkan dalam pantun dapat dilihat (imaji visual), didengar (imaji auditif), atau dirasa (imaji taktil).

4.   Bunyi: umumnya muncul dari kiasan, imaji, serta diksi yang diciptakan ketika menuturkan pantun. Ada unsur rhyme (rima) dan rhytm (ritme), yang berguna memperindah pantun dan lebih mudah mengingat.


F.   Peran Pantun
Pantun merupakan salah satuk karya sastra yang berperan dalam:
1.   Pemeliharaan bahasa;
2.   Penjaga fungsi kata;
3.   Melatih berpikir asosiatif,
4.   Meningkatkan hubungan sosial selaku fungsinya sebagai alat penguat penyampaian pesan, dan
5.   Media kebudayaan untuk memperkenalkan dan menjaga nilai-nilai kemasyarakatan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PEDIH

  Ia ceritakan kepada malam Sebuah kisah yang kelam Ketika hati menjadi ulam Mengenang cinta yang suram   Ia ceritakan kepada bint...