Sabtu, 19 Mei 2018

15 Jenis Puisi Baru

puisi baru


A.  Pengertian Puisi Baru
Puisi baru merupakan salah satu jenis puisi yang mempunyai bentuk yang lebih bebas dalam hal aturan.
Baik itu aturan mengenai jumlah baris, suku kata, ataupun rima dan irama. Puisi baru tidak kaku seperti halnya puisi lama.

B.  Ciri-Ciri Puisi Baru
Ciri-ciri yang bisa digunakan untuk mengenali puisi baru antara lain:
1.   Berbentuk simetris dan rapi
2.   Persajakan akhirnya teratur
3.   Pola yang dominan adalah pola sajak pantun dan syair
4.   Hampir semua merupakan puisi empat seuntai
5.   Setiap barisnya atas sebuah gatra (kesatuan sintaksis)
6.   Setiap gatra terdiri atas 2 kata, atau 4-5 suku kata.

C.  Jenis-Jenis Puisi Baru
Pembagian puisi baru didasarkan pada dua hal, yaitu berdasarkan isi dan bentuknya.
Berikut diuraikan setiap jenis dari puisi baru berdasarkan isi dan berdasarkan bentuknya.

a.   Puisi Baru Berdasarkan Isinya
Berdasarkan isi atau bahasan dalam puisi, puisi baru dibedakan menjadi 7 jenis yaitu balada, himne, ode, epigram, romansa, elegi, dan satire.

1)   Balada
Balada merupakan sebuah puisi yang berisi kisah atau cerita tertentu.

Contoh: 

Balada Ibu yang dibunuh
Ibu musang di lindung pohon tua meliang
Bayinya dua ditinggal mati lakinya.
Bualan sabit terkait malam memberita datangnya
Waktu makan bayi-bayinya mungil sayang.
Matanya berkata pamitan, bertolaklah ia
Dirasukinya dusun-dusun, semak-semak, taruhan harian atas nyawa.
Burung kolik menyanyikan berita panas dendam warga desa
Menggetari ujung bulu-bulunya tapi dikibaskannya juga.
Membubung juga nyanyi kolik sampai mati tiba-tiba
Oleh lengking pekik yang lebih menggigitkan pucuk-pucuk daun
Tertangkap musang betina dibunuh esok harinya.
Tiada pulang ia yang mesti rampas rejeki hariannya
Ibu yang baik, matinya baik, pada bangkainya gugur pula dedaun tua.
Tiada tahu akan meraplah kolik meratap juga
Dan bayi-bayinya bertanya akan bunda pada angin tenggara
Lalu satu ketika di pohon tua meliang
Matilah anak-anak musang, mati dua-duanya.
Dan jalannya semua peristiwa
Tanpa dukungan satu dosa, tanpa.

2)   Hymne
Hymne merupakan sebuah puisi yang berisi pujian untuk Tuhan, dewa, pahlawan, tanah air, atau almamater (dalam dunia sastra).
Dewasa ini, hymne menjadi sebuah puisi yang dinyanyikan.

Contoh:

Ya Tuhan kami
Kami telah terpuruk dalam lautan dosa
Detik menit jam kami terendam dalam dosa
Pikiran yang mendua
Hati yang beku
Ampunilah kami
Ya Tuhan kami
 Ya Tuhan
Telah kotor setiap inci daging ini
Telah hina diri ini
Menyalahgunakan karunia-Mu
Mengkufurkan nikmat-Mu
Semoga Kau tuntun kami kembali
Ke jalan kebenaran-Mu
Ke jalan lurus-Mu
Sebelum Kau panggil kami kembali
Ke alam kekal-Mu
Amin

3)   Ode
Ode merupakan puisi yang berisi sanjungan atau pujian. Kata-kata yang digunakan bernada anggun tapi resmi.

Contoh:

Guruku…
Cahaya dalam kegelapanku
Pengisi semua kekosonganku
Penyejuk kelayuan hatiku
Kau sirnakan segala kebodohan
Kau terangi setiap sisi jiwa
Kau terjang segala pandang negatif
Sungguh mulia hatimu
Sungguh besar pengorbananmu
Sungguh tak ternilai keikhlasanmu
Jasamu bagai emas mulia
Tak kan terganti sampai maut menjemput
Tak kan tertutup oleh keburukan dunia
Guruku…
Terima kasihku dari dalam lubuk hatiku

4)   Epigram
Epigram adalah puisi yang memuat tuntunan dalam hidup.

Contoh:

Hari itu tak ada tempat berlari
Tak ada tempat bersembunyi
Tak ada memohon belas kasih
Semua sudah menyatu
Amal satu-satunya penolong
Amal satu-satunya cahaya
Merintih tiada berarti
Menyesal tiada berguna
Barulah sadar dunia yang fana
(memuat pengingat untuk beramal selagi masih hidup)

5)   Romansa
Kata romansa berasal dari bahasa Perancis yaitu “romantique” yang berarti keindahan perasaan.
Romansa adalah puisi baru yang merupakan luapan perasaan cinta kasih.

Contoh:

Kisah ini hanya kau dan aku
Tak ada ketiga, keempat, kelima
Aku adalah kau
Kau adalah aku
Senyummu adalah bahagiaku
Tangismu adalah laraku
Citamu adalah wajibku
Karena kau…
Adalah tulang rusukku

6)   Elegi
Berkebalikan dengan romansa, elegi merupakan puisi yang berisi tentang kesedihan.
Puisi ini bertujuan untuk mengungkapkan rasa duka, sedih, rindu, terutama karena kepergian seseorang atau penyesalan di masa lalu.

Contoh:

Dalam erangan jiwa
Aku menangis mengingat-Mu
Dalam pilunya hati
Aku bersujud kepada-Mu
Dalam ratap tangisku
Aku berserah kepada-Mu
Renungi semua dosa dan khilaf
Takutku dan sesalku
Merangkai doa selalu kupanjatkan
Ya Tuhan…
Ampunilah dosaku
Ampunilah khilafku

7)   Satire
Satire adalah puisi yang memuat sindiran kepada penguasa/orang yang memiliki posisi/jabatan.
Tokoh sastrawan yang terkenal dengan karya satirenya adalah W.S. Rendra.

Contoh:

Lihatlah kami
Peluh dan keringat adalah kawan kami
Banting tulang adalah kesetiaan kami
Kekurangan adalah kelebihan kami
Penderitaan adalah keseharian kami
Tapi lihatlah dirimu
Tertawa di atas peluh keringat kami
Bersantai di atas remuknya tulang kami
Berfoya di atas kekurangan kami
Kau curi semua hak kami
Kau curi sesuap nasi kami
Kau berlimpah harta atas nama kami
Kau berjanji atas nama kami
Kami hanya cukup diam
Di atas sajadah kami
Semoga Tuhan membalas kezhaliman ini

b.   Puisi Baru Berdasarkan Bentuknya
Berdasarkan bentuknya, puisi baru dibedakan menjadi 8 jenis yaitu distikon, terzina, quatrain, kuint, sektet, septime, oktaf, dan soneta.

1)   Distikon (Distichon), adalah puisi yang terdiri atas dua baris dalam tiap baitnya. Distikon bersajak a-a.

Contoh 1

Pandanglah mata ibumu
Sayu namun penuh kasih sayang

Pandanglah mata ayahmu
Tegas namun penuh kasih sayang

Untukmu…mereka berjuang
Agar kelak kau sukses dunia akhirat


Contoh 2

Berkali kita gagal
Ulangi lagi dan cari akal

Berkali-kali kita jatuh
Kembali berdiri jangan mengeluh

2)   Terzina, adalah puisi yang terdiri atas tiga baris dalam tiap baitnya. Terzina dapat bersajak a-a-a; a-a-b; a-b-c; atau a-b-b.

Contoh 1

Ayah…
Tajamnya matamu menyiratkan kekuatan
Dalam mendidik kami untuk tegap

Ayah..
Otot tanganmu tak pernah lelah
Membimbing kamu selalu maju ke depan

Terima kasih slalu kuucapkan
Atas semua pengorbanan dan letihmu
Semoga Tuhan selalu menjagamu

Contoh 2 : Bagaimana

Kadang-kadang aku benci
Bahkan sampai aku maki
........ diriku sendiri

Seperti aku
menjadi seteru
........ diriku sendiri

Waktu itu
Aku ........
seperti seorang lain dari diriku

Aku tak puas
sebab itu aku menjadi buas
menjadi buas dan panas

3)   Quatrain, adalah puisi yang terdiri atas empat baris dalam tiap baitnya. Quatrain bersajak a-b-a-b, a-a-a-a, atau a-a-b-b.

Contoh 1

Mulai menyeruak pelan
Kenangan masa kecil dulu
Mulai teringat pasti
Peluhmu untuk tawaku

Kini semua tak serupa
Tawamu bahkan tak bisa kuperjuangkan
Tawamu tak bisa kepandang
Oh Ibuku tersayang

Contoh 2 : Mendatang-Datang Jua

Mendatang-datang jua
Kenangan lama lampau
Menghilang muncul jua
Yang dulu sinau silau

Membayang rupa jua
Adi kanda lama lalu
Membuat hati jua
Layu lipu rindu-sendu

4)   Quint, adalah puisi yang terdiri atas lima baris dalam tiap baitnya. Quint bersajak a-a-a-a-a.

Contoh 1

Detak jantungmu mengubah hidupku
Gerakan halusmu menyeruak jiwaku
Tendangan kencangmu menengok dunia
Selamat datang…
Putri kecilku

Contoh 2 :  Hanya Kepada Tuan

Satu-satu perasaan
Yang saya rasakan
Hanya dapat saya katakan
kepada Tuan
Yang pernah merasakan

Satu-satu kegelisahan
Yang saya rasakan
Hanya dapat saya kisahkan
kepada Tuan
Yang pernah di resah gelisahkan

Satu-satu desiran
Yang saya dengarkan
Hanya dapat saya syairkan
kepada Tuan
Yang pernah mendengarkan desiran

Satu-satu kenyataan
Yang saya didustakan
Hanya dapat saya nyatakan
kepada Tuan
Yang enggan merasakan

5)   Sektet, adalah puisi yang terdiri atas enam baris dalam tiap baitnya. Sektet mempunyai persajakan yang tidak beraturan.

Dalam sektet, pengarangnya bebas menyatakan perasaannya tanpa menghiraukan persajakan atau rima bunyi.

Contoh 1

Bangunan reot kayu tua
Atap jerami yang mulai tertembus
Pintu yang tak lagi rapat
Tanpa jendela melihat dunia
Rintikan hujan tak lagi bisa dibendung
Rumahku kenanganku

Contoh 2 : Merindukan Bagia

Jika hari’lah tengah malam
Angin berhenti dari bernafas
Alam seperti dalam samadhi
Sukma jiwaku rasa tenggelam
Dalam laut tidak terwatas
Menangis hati diiris sedih


6)   Septime, adalah puisi yang terdiri atas tujuh baris dalam tiap baitnya. Sama halnya dengan sektet, persajakan septima tidak beraturan.

Contoh 1

Akankah datang…
Pagi esok dengan embun di atas daun
Sapaan halus dari bibir kecilmu
Rengkuhan manja dari tangan kecilmu
Langkah terhuyung namun semangat
Suaramu yang selalu memanggilku
Ibu…

Contoh 2 : Api Unggun

Diam tenang kami memandang
Api unggun menyala riang
Menjilat meloncat menari riang
Berkilat-kilat bersinar terang
Nyala api nampaknya curai
Hanya satu cita dicapai
Alam nan tinggi, sunyi, sepi

7)   Oktaf/Stanza, adalah puisi yang terdiri atas delapan baris dalam tiap baitnya. Persajakan oktaf/stanza juga tidak beraturan

Contoh 1

Selama langit masih biru
Selama awan masih putih
Selama matahari masih bersinar
Selama siang berganti malam
Selama bintang bersama bulan
Kupanjatkan selalu doaku
Semoga kau sehat selalu
Oh Ayah Ibu…

Contoh 2 : Pertanyaan Anak Kecil

Hai kayu-kayu dan daun-daunan!
Mengapakah kamu bersenang-senang?
Tertawa-tawa bersuka-sukaan?
Oleh angin dan tenang, serang?
Adakah angin tertawa dengan kami?
Bercerita bagus menyenangkan kami?
Aku tidak mengerti kesukaan kamu!
Mengapa kamu tertawa-tawa?

Hai kumbang bernyanyi-nyanyi!
Apakah yang kamu nyanyi-nyanyikan?
Bunga-bungaan kau penuhkan bunyi!
Apakah yang kamu bunyi-bunyikan?
Bungakah itu atau madukah?
Apakah? Mengapakah? Bagaimanakah?
Mengapakah kamu tertawa-tawa?

8)   Soneta
Soneta berasal dari kata Sonetto dalam bahasa Italia yang terbentuk dari kata latin Sono yang berarti bunyi’ atau ‘suara’.
Soneta adalah puisi yang terdiri atas empat belas baris dan terbagi menjadi dua.
Dua bait pertama berisi masing-masing empat baris, dan dua bait kedua masing-masing tiga baris.
Soneta berbeda dengan puisi baru lainnya.
Perbedaan ini terletak pada ketidak bebasannya dalam hal rima.
Rima pada bait pertama sama dengan rima pada bait kedua.
Sedangkan pola rima pada bait ketiga sama dengan rima pada bait keempat.

Adapun syarat-syarat soneta (bentuknya yang asli) adalah sebagai berikut :
a.   Jumlah baris ada 14 buah.
b.   Keempat belas baris terdiri atas 2 buah quatrain dan 2 buah terzina.
c.   Jadi pembagian bait itu: 2 × 4 dan 2 × 3.
d.   Kedua buah kuatrain merupakan kesatuan yang disebut stanza atau oktaf.
e.   Kedua buah terzina merupakan kesatuan, disebut sextet.
f.     Octav berisi lukisan alam; jadi sifatnya objektif.
g.   Sextet berisi curahan, jawaban, atau kesimpulan sesuatu yang dilukiskan dalam oktaf; jadi sifatnya subjektif.
h.   Peralihan dari oktaf ke sektet disebut volta.
i.     Jumlah suku kata dalam tiap-tiap baris biasanya antara 9 dan 14 suku kata.
j.     Rumus dan sajaknya a-b-b-a, a-b-b-a, c-d-c, d-c-d.

Lama kelamaan para pujangga tidak mengikuti syarat-syarat di atas.
Pembagian atas bait-bait, rumus sajak serta hubungan isinya pun mengalami perubahan.
Yang tetap dipatuhinya hanyalah jumlah baris yang 14 buah itu saja.
Bahkan seringkali jumlah yang 14 baris dirasa tak cukup oleh pengarang untuk mencurahkan fikirannya.
Itulah sebabnya lalu ditambah beberapa baris menurut kehendak pengarang.
Tambahan itu disebut Cauda yang berarti ekor.
Karena itu, kini kita jumpai beberapa kemungkinan bagan.
Soneta Shakespeare, misalnya mempunyai bagan sendiri mengenai soneta-soneta gubahannya,
yakni:
Pembagian baitnya : 3 × 4 dan 1 × 2.
Sajaknya : a-b-a-b, c-d-c-d, e-f-e-f, g-g.
Demikian pula pujangga lain, termasuk pujangga soneta Indonesia mempunyai cara pembagian bait serta rumus-rumus sajaknya sendiri.

Contoh 1

Siapa aku ini     (a)
Hamba yang tak rajin sembahyang   (b)
Tapi menuntut berumur panjang    (b)
Tak tahu malu diri ini     (a)
Ingin bisa selalu berdiri     (a)
Ingin selalu dipandang orang    (b)
Banyak rizki tanpa jauh dari kandang    (b)
Ingin semua serba pasti     (a)
Siapa aku ini     (a)
Tanpa ada ikhlas hati     (a)
Dan berserah diri     (a)
Ampunilah aku Ya Tuhan     (c)
Hamba yang selalu meminta kelebihan     (c)
Tanpa ada dalam diri suatu kebaikan     (c)


Contoh 2 : Gembala

Perasaan siapa ta’kan nyala (a)
Melihat anak berlagu dendang (b)
Seorang saja di tengah padang (b)
Tiada berbaju buka kepala (a)
Beginilah nasib anak gembala (a)
Berteduh di bawah kayu nan rindang (b)
Semenjak pagi meninggalkan kandang (b)
Pulang ke rumah di senja kala (a)
Jauh sedikit sesayup sampai (a)
Terdengar olehku bunyi serunai (a)
Melagukan alam nan molek permai (a)
Wahai gembala di segara hijau (c)
Mendengarkan puputmu menurutkan kerbau (c)
Maulah aku menurutkan dikau (c)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PEDIH

  Ia ceritakan kepada malam Sebuah kisah yang kelam Ketika hati menjadi ulam Mengenang cinta yang suram   Ia ceritakan kepada bint...