Senin, 28 Desember 2020

SARAH

 

cerpen sarah

Antrian di ruang peminjaman buku lumayan panjang, karena pegal berdiri, Robi memilih duduk di sofa yang sudah disediakan. Ruang perpustakaan umum tampak ramai siang itu , banyak mahasiswa baru yang ingin meminjam buku. Seorang gadis tampak keluar dari antrian, ketika hendak memasukkan buku yang dipinjamnya ke dalam tas, sesuatu melayang jatuh tanpa disadarinya. Robi mengambil benda yang terjatuh itu, benda itu ternyata kartu perpustakaan.

“Hey, kartu perpustakaanmu terjatuh”

Gadis itu menoleh, lalu mendekati Robi, mengambil kartu perpustakaan itu dari tangan Robi “terimakasih” katanya singkat, lalu berlalu.

“Sama-sama” jawab Robi. Sekilas ia memperhatikan kartu perpustakaan itu sebelum diambil pemiliknya, ia hanya sempat membaca namanya saja, Sarah.

Tidak berapa lama, antrian tampak sepi. Robi pun mengambil kesempatan itu, ia lalu meyodorkan buku yang akan dipinjamnya ke petugas perpustakaan untuk diregistrasi. Setelah menerima buku yang dipinjamnya dari petugas perpustakaan, Robi pun menuju parkiran. Motor bebeknya sudah setia menunggu dan siap mengantarkan tuannya pulang.

 

Sesampainya di rumah. Ia langsung masuk kamar, meletakkan tasnya diatas tempat tidur, lalu bergegas menuju dapur.  Setelah mengambil nasi dan lauknya, ia mencuci tangannya di wastafel. Ketika hendak menyuap nasi ke mulutnya, hidungnya menangkap sesuatu aroma, aroma parfum. Ia cium tangannya, aroma itu makin kuat. Tapi itu bukan aroma parfumnya, ia lalu berfikir sejenak. Berarti itu aroma parfum gadis yang kartu perpustakaannya terjatuh.

 

Ia menunda makan siangnya, menyingkirkan nasi yang melekat ditangannya dengan tisu, lalu ia menuju kios parfum yang terletak di seberang jalan depan rumahnya. Sesampainya di kios parfum, tampak sang pemilik kios tengah menghisap rokoknya dalam-dalam. Di dekatnya tampak bungkusan nasi yang masih baru. Sepertinya ia baru makan siang juga. Pelanggan sering menyapanya dengan panggilan Bang Ucok.

 

“Bang Ucok” sapa Robi

Bang Ucok spontan menoleh, “hai Robi, mau beli parfum lagi kau ya? Baru dua hari yang lalu kau beli parfum, sudah beli lagi. Parfum itu cara memakainya disemprotkan bukan ditumpahkan” ia lalu tertawa kecil sendiri. Begitulah cara Bang Ucok melayani pembelinya, beruasaha melakukan pendekatan personal dengan sedikit bercanda.

 

“Bukan Bang, aku mau tanya kalau aroma parfum ini apa namanya” Robi lalu menyodorkan tangannya. Bang Ucok lalu mengendus-endus tangan Robi seperti anjing pelacak mengendus buruannya.

“Bah, ini bukan aroma parfum, ini aroma ikan goreng” kata Bang Ucok

“Abang yakin, Bang?” tanya Robi sedikit ragu

“Yakinlah, kau lihatlah aku baru makan siang pakai lauk ikan goreng, masih hapal aku aromanya” jawab Bang Ucok tanpa ragu.

Robi segera menyadari ada yang salah. Ia perhatikan lagi tangannya, ia terkejut sendiri. Ternyata tangan yang disodorkannya tangan yang sebelah kiri, padahal tangan yang sebelah kanan yang ada aroma parfumnya.

“Salah Bang Ucok” kata Robi

“Apanya yang salah” sahut Bang Ucok sedikit kesal

“Aku yang salah, aroma parfumnya ada disebelah tangan kanan”

“ Ooo, patutlah. Sini tangan kananmu”, Robi lalu menyodorkan tangan kanannya

Bang Ucok lalu mengendus tangan kanan Robi. Butuh waktu beberapa menit Bang Ucok menganalisa aroma itu untuk menemukan jenis parfumnya.

 

Setelah beberapa menit. “Kalau tidak salah, itu aroma parfum Japanese Cherry Blossom

” kata Bang Ucok

‘Terimakasih banyak Bang Ucok, aku pulang dulu belum makan siang” lalu segera berlalu dari kios parfum itu.

“Oke, sama-sama” jawab Bang Ucok

 

Sesampainya di rumah, Robi melanjutkan kembali acara makan siangnya dengan lahap, bahkan tanpa sadar sambil sedikit bersenandung. Kucing peliharaannya saja sempat heran, lalu ia mengeong tiga kali, “ngeong, ngeong, ngeong”  artinya awas tertelan duri ikan, bos. Robi tak mempedulikan peringatan kucing itu. Merasa tidak dipedulikan kucing itu berlalu meninggalkan Robi, menggoda kucing betina tetangga.

 

Keesokan harinya, Robi pergi kuliah padahal hari itu tidak ada jadwal perkulihan. Ia pergi ke kampus bukan untuk kuliah, tapi ia pergi ke perpustakaan. Ia duduk di ruang tunggu dengan pandangan ke tempat keluar masuk pengunjung. Ia berharap gadis yang bernama Sarah muncul kembali. Tiga hari berturut-turut Robi mengunjungi perpustakaan, namun hasil pencariannya nihil.

 

Karena sudah sore dan belum ketemu juga dengan gadis itu, Robi kecewa. Dengan langkah berat ia tinggalkan ruang tunggu perpustakaan. Tpai sebelum melewati pintu ruang tunggu, ia berhenti karena ada yang menyapanya. ‘Hey, Robi sedang apa kamu, Bapak lihat kamu bolak-balik ke ruang tunggu” sapa Pak Anton, petugas peepustakaan. Pak Anton mengenal Robi karena Robi salah satu mahasiswa yang paling sering meminjam buku.

“ Hmm, nunggu teman Pak, tapi nggak jadi datang”

“ Ooo, Bapak pikir kamu kehilangan sesuatu, kenapa bolak-balik datang”

“Bapak mau pulang juga, Pak?”

“Iya, kamu juga kan?”

“Iya, kalau gitu kita sama-sama ke parkiran, Pak”

Mereka lalu berjalan menuju parkiran. Sesampainya di parkiran, mereka menuju kendaraan masing-masing. Lalu memacu kendaraannya menuju rumah.

 

Sabtu malam minggu, anak muda biasanya sibuk ngapel pacar. Tapi Robi yang masih jomblo berdiam diri di rumah tidur-tiduran sambil mengelus-elus Jack, kucing jantan peliharaannya. Ia lalu bangun, digendongnya kucing jantan itu, lalu ia menuju kios parfum Bang Ucok. 

“Selamat malam, Bang Ucok”

“ Malama Robi, nggak ngapel kau, ini kan malam minggu”

“Nggak Bang. Aku masih jomblo Bang”

“Hahaa, makanya kau carilah pacar”

“Karena itulah makanya aku kemari Bang. Mau tanya-tanya soal parfum yang tempo hari”

“ Soal parfum Japanese Cherry Blossom itu? Itu parfum yang banyak disukai perempuan, wanginya khas cherry, lembut tapi menyegarkan. Kau aja begitu mencium aromanya langsung segarkan?”

Mereka berdua kemudian sama-sama tertawa. Kucing jantan dalam gendongannya bingung melihat kedua orang itu tertawa.

“Kalau gitu, aku beli satu botol, Bang” kata Robi, sambil menyodorkan beberapa uang pecahan seratus ribu.

Dengan cepat Bang Ucok membungkus parfum itu, lalu menyerahkannya kepada Robi “ini parfumnya, semoga nona kau senang menerimanya”

“ Hahaha, ini masih usaha Bang, belum jadi pacar”

“ Abang yakin kalau kau kasih parfum itu, bakalan jatuh cinta dia sama kau”

“ Semoga aja Bang, supaya pengrobananku tidak sia-saia”

Mereka lalu kembali tertawa bersama. Kucing jantan itu tidak lagi bengong, ia melapaskan diri dari gendongan Robi, lalu mengejar kucing betina yang  masuk ke dalam gang.

 

Parfum yang sudah dibeli, dibungkusnya dengan kertas kado bermotif cherry. Dalam imajinasinya ketika memberikan parfum itu, seolah-olah memberikan cherry. Ia lalu berlatih menirukan gaya yang paling elegan ketika menyerahkannya. Ia keluar kamar, menuju dapur. Di dapur ia buka kulkas, mengambil sebotol air dingin lalu menuangkannnya ke dalam gelas, lalu menenggak habis air dalam gelas itu.

 

Setelah minum barulah otaknya fresh lagi, lalu ia teringat sesuatu, kapan parfum itu mau ia berikan, alamatnya ia tak tahu, fakultasnya juga ia tak tahu. Merasa buntu, ia minum segelas lagi. Langsung ia menemukan ide untuk mengatasi permasalahannya, Pak Anton petugas perpustakaan. Besok siang ia akan ke perpustakaan menjumpai Pak Anton.

 

Siang itu suasana perpustakaan  kebetulan sedang lengang. Robi langsung mendekati Pak Anton. “ Selamat siang, Pan Anton”

Pak Anton mengalihkan pandangannya dari layar komputer “eh, Robi, selamat siang. Ada yang bisa Bapak bantu”

“Ada dong Pak, makanya saya kemari. Tapi ini sifatnya pribadi, Bapak lagi sibuk nggak?”

“Nggak, saya lagi nggak sibuk ini. Apa itu, Rob”

“Pak, tolong Bapak lihat data peminjam buku di hari senin seminggu yang lalu. Ada nggak yang namanya sarah?”

Pak Anton lalu mengecek data dikomputernya, tak lama kemudian “ada 10 orang yang bernama sarah yang meminjam hari itu, Rob”

“ Boleh saya lihat foto orangnya, Pak?”

Pak Anton lalu memutar layar komputernya ke arah Robi. Dengan perlahan-lahan Robi mengamati 10 foto yang bernama Sarah itu. Setelah beberap menit, “ini dia Pak orangnya” sambil menunjuk foto yang ada di layar monitor. “Boleh sekalian di print Pak”

Pak Anton lalu mencetak data yang diminta Robi. Setelah selasia dicetak, secapat kilat Robi menyambar kertas itu. “Terimakasih, Pak”

“Sama-sama Rob. Tapi rahasia kita berdua ya, saya seharusnya tidak boleh melayani hal-hal seperti ini”

“Beres, Pak Anton. Sekali lagi terimakasih banyak Pak”

“Oke, selamat berjuang anak muda” Pak Anton lalu meneruskan pekrjaannya. Robi pun meninggalkan ruangan Pak Anton.

 

Dari data yang diberikan Pak Anton kini Robi tahu kalau Sarah lahir pada tanggal 21 April. Ia langsung mencari kalender, ia perhatikan dengan seksama. Sekarang tanggal 14 April berarti seminggu lagi ulang tahunnya. Itu momen yang tepat untuk memberikan parfum yang sudah dipersiapkannya. Dari data itu juga Robi tahu kalau Sarah Fakultas Bahasa Inggris.

 

Robi pun pergi main ke Fakultas Bahasa Inggris, siapa tahu ketemu Sarah di sana. Ia pun mengambil tempat duduk di box semen yang sebetulnya adalah jembatan parit, yang berubah fungsi menjadi tempat nongkrong mahasiswa. Hampir setengah jam ia duduk situ sambil matanya mengamati mahasiwi yang lalu lalang. Terasa bosan juga duduk sendirian, menjelang lima menit lagi pas satu jam seseorang menyapanya” hei, sedang apa di sini?”

 

Robi menoleh ke belah kanan, asal suara itu. “ hei, Sarah, kebetulan sekali, aku kesini mencari kamu” kata Robi tanpa basa-basi.

“Mencari aku? Memangnya ada perlu apa? Eh sebentar, kok kamu tahu nama aku?”

“Aduh, pertanyaannya jangan beruntung gitu dong, aku jadi bingung jawab yang mana”

“ Baiklah, kita mulai dari pertanyaan pertama, kamu tahu namaku dari mana?”

“Dari kartu perpustakaanmu yang jatu tempo hari”

“Pertanyaan kedua, ada perlu apa kamu mencari-cari aku? padahal seingat aku, aku nggak pernah minjam uang kamu”

Dalam hati Robi, asyik juga cewek ini suka bercanda. Jadi betah lama-lama dekat dia.

“Hei, ditanya kok malah bengong?”

“Mmm, aku mau kasih kamu sesuatu dihari ulang tahunmu nanti”

“Oh iya, untung kamu ingatkan, aku memang mau merayakan ulang tahun, tapi nggak besar-besaran hanya mengundang beberapa teman saja. Jadi aku undang kamu juga”

“Terimakasih undangannya. Kalau boleh tahu, ulang tahun yang ke berapa?”

“Hmm. yang keberapa ya....yang ke dua puluh”

“Tapi nggak kelihatan kayak berumur dua puluh. Kelihatannya lebih muuda”

“Masak sih, kelihatan kayak umur berapa?”

“Kayak orang yang masih berumur sembilan belas”

“Haha, mudanya cuma satu tahun saja. Oh, iya, maaf ya aku nggak bisa lama-lama, ada mata kuliah lagi. Kamu aku tinggal dulu ya. Jangan lupa ya datang di hari ulang tahun aku. Sampai jumpa” Sarah berlalu meninggalkan Robi

“Oke”  jawab Robi. Matanya mengikuti arah gadis itu berjalan, hingga gadis itu hilang di balik tangga lantai dua Fakultas itu. Pertemuan singkatnya dengan Sarah semakin menambah rasa sukanya kepada gadis itu.

 

Di acara ulang tahun Sarah yang katanya hanya mengundang beberapa orang, tampak ramai sekali. Rumahnya yang besar terasa sempit kelihatannya. Robi tidak menyangka jika gadis itu anak seorang pejabat, tampilannya sederhana dan nggak sombong. Ia kumpulkan semua sisa-sisa keberaniannya, karena rasa percaya dirinya berlahan menurun semenjak memasuki komplek perumahan elit itu.

 

Ia dekati Sarah yang berada di dekat kedua orang tuanya. Kedua orang tua Sarah tampak memakai pakain yang mewah, tapi sarah hanya dengan pakaian biasa saja, seolah-olah bukan dia yang ulang tahun. “Selamat ulang tahun Sarah” sambil menyerahkan bungkusan kado ditangannya. Kemudian Robi menyalami orang tua Sarah, “malam Oom, malam Tante” Kata Robi dengan sedikit senyum. Tapi sebelum jauh dari orang tuanya Sarah, Papanya Sarah tiba-tiba memanggil Robi.

 

“Hei, anak muda coba kemari sebentar” panggil Papanya Sarah. Robi pun datang mendekat

“Ada apa Oom?”

“Kamu anaknya Pak Wijaya ya?”

“Iya Oom”

“Hmmm. Jadi begini, mulai hari ini dan seterusnya kamu jangan pernah lagi menginjak rumah ini”

“Memangnya kenapa Oom?”

“Karena kamu anak seorang koruptor. Saya tidak suka orang-orang kotor menginjak rumah saya. Sekarang kamu harus keluar dari rumah ini”

“Papa, jangan mempermalukan Robi didepan orang banyak” bela Sarah

Muka Robi merah, ia yang tadinya sedikit minder menjadi emosi. Ia tinggalkan rumah itu dengan langkah cepat. Dengan cepat ia menyalakan motor bebeknya, lalu tancap gas meninggalkan rumah itu. Ia tidak pedulikan lagi Sarah yang berusaha mencegahnya untuk tidak meninggalkan tempat itu. “Robi, tunggu” suara Sarah tak kedengaran lagi, karena Robi sudah hilang ditikungan jalan komplek itu.

 

Robi mendatangi Ayahnya dipenjara dan menceritakan apa yang sudah dialaminya kepada Ayahnya. Ayahnya memeluk dengan erat tubuh Robi, sambil berkata “kamu yang sabar ya, kamu harus kuat menghadapi semua ujian ini”. Ayahnya menatap langit-langit sel tahanannya seperti sedang melihat untaian peristiwa yang menghantarkannya masuk penjara. Lalau ia mulai bercerita

 

“Malam itu, Pak Arya, papanya Sarah menelpon Ayah. Ayah disuruh menjumpai seseorang di sebuah cafe. Sesampainya di cafe, orang suruhan Pak Arya yang lain memberikan sebuah koper. Katanya koper itu harus diserahkan kepada pria yang duduk di meja 19. Sesampainya di meja 19, Ayah langsung menyerahkan koper kepada pria itu. Pria itu menerimanya, membuka sebentar lalu berdiri hendak meninggalkan Ayah. Diasaat itulah KPK  datang menangkap Ayah dan pria tadi. Jadi Ayah ini dijebak oleh Pak Arya”

 

Dari cerita Ayahnya kini Robi sudah tahu kebenaran yang sesungguhnya. Kini ia harus merelakan dirinya patah hati. Bagaiman mungkin ia mencintai putri dari seseorang yang menyebabkan Ayahnya di penjara. Cintanya kepada Ayahnya lebih besar daripada cintanya kepada Sarah.

 

 

 

Cerpen tersebut diikutsertakan dalam Lomba Menulis Cerpen Nasional Epilog Media 2020 yang diselenggarakan oleh Epilog Media tanggal 10 Mei 2020

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PEDIH

  Ia ceritakan kepada malam Sebuah kisah yang kelam Ketika hati menjadi ulam Mengenang cinta yang suram   Ia ceritakan kepada bint...